Senin, 01 Desember 2014

Alasan Kenapa Partner Konan adalah Pein

Diposting oleh Unknown di 08.13 0 komentar

Alasan Kenapa Partner Konan adalah Pein

 

Warning: Spoiler dari chapter 363.

 

Disclaimer:

 

Saya: Eh Konan... pemilik cerita Naruto yang sesungguhnya Masashi Kishimoto-sensei 'kan? (Nyengir).

 

Konan: (Menatap dengan ekspresi biasa-biasa saja) Benar.

 

Saya: Sekian dan terima kasih. (Tersenyum lebar ke hadapan para pembaca).

 

Konan adalah satu-satunya anggota Akatsuki yang cewek. Keahlian khususnya Konan adalah menggunakan ninjutsu kertas yang mampu membuat dirinya menjadi klon kertas-kertas yang berterbangan. Ia adalah partner dari pemimpin Akatsuki, yaitu Pein. Mereka sama-sama mantan shinobi desa Amegakure. Mereka juga merupakan shinobi yang bukan main kuatnya.

 

Ada sih... alasan kenapa Konan berpasangan dengan Pein dan bukan dengan yang lainnya...

 

1. Seandainya Konan berpasangan dengan Orochimaru:

 

Orochimaru: Hai cewek... kebetulan ketemu. Aku membutuhkan tubuhmu. Kayaknya cocok menjadi wadahku yang ke-x kalinya apalagi melihat tubuhmu punya keahlian khusus.

 

Konan: (Berkata dengan suara monoton) Mati saja sana... atau kamu kujadikan koleksi tas kulit ularku yang ke-x kalinya.

 

Orochimaru: .......

 

Jangan-jangan... itu adalah alasan sebenarnya Orochimaru meninggalkan Akatsuki.

 

2. Seandainya Konan berpasangan dengan Deidara:

 

Deidara: Seni adalah ledakan!! Bukan kertas-kertas konyolmu!

 

Konan: Mati aja sana... aku nggak punya waktu meladeni orang ribut yang banyak omong dengan gaya rambut yang kayak cewek sepertimu.

 

Deidara: Grrrr lihat saja!! (mengambil tanah liat dari tasnya).

 

Konan: (berjalan acuh tak acuh meninggalkan Deidara berteriak meminta tolong setelah seluruh tubuhnya terbungkus kertas oleh jurus Konan).

 

Sejak itu Deidara benci kertas.

 

3. Seandainya Konan berpasangan dengan Sasori:

 

Sasori: Ngaku saja... seniku lebih baik daripada seni si Deidara rambut poni itu.

 

Konan: Mati saja sana... seni kalian sama-sama bahan lawakan. Yang satunya suka bom yang satunya suka boneka... benar-benar lucu.

 

Sasori: Jaga mulutmu atau kuracuni kamu.

 

Konan: Coba saja racuni aku sejuta kali.... (Konan berubah menjadi jutaan klon kertas berbentuk kupu-kupu).

 

Sasori: Sial!

 

Sejak itu Sasori benci kupu-kupu.

 

4. Seandainya Konan berpasangan dengan Hidan:

 

Hidan: Aku malas berpasangan dengan cewek.

 

Konan: Mati saja sana... orang yang suka pingsan karena anemia.

 

Hidan: Apa?!! Berani menantangku?! (melakukan jurusnya yang serba aneh itu dengan menggores lawan, mencicipi darah lawan, membuat lingkaran, dan etc.) Hahaha!! Hari-harimu sudah berakhir!

 

Konan: (Memandang Hidan lalu berbalik meninggalkannya sekarat setelah ia tiba-tiba pingsan karena anemia).

 

Siapa yang selalu mengantar Hidan ke rumah sakit ya?

 

5. Seandainya Konan berpasangan dengan Kakuzu:

 

Kakuzu: Hei cewek kalau berpasangan dengan aku bayar dulu uang satu juta sebagai bayaran karena sudah berada di bawah perlindunganku.

 

Konan: Mati saja sana... aku tidak butuh perlindunganmu.

 

Kakuzu: Baiklah... tapi ajarkan saya bagaimana caranya mengubah kertas biasa menjadi kertas uang ya?

 

Konan: (Meninggalkan Kakuzu melewati Hidan yang masih terbaring sekarat).

 

Kakuzu: (Bergegas ke arah Hidan menanyakan berapa uang yang akan dia dapat jika dia menolong Hidan).

 

Jadi Kakuzu yang membawa Hidan ke rumah sakit, atau menyumbangkan darahnya. Tentu saja ia dibayar.

 

6. Seandainya Konan berpasangan dengan Itachi:

 

Itachi: ...............

 

Konan: ...............

 

Itachi: ....................

 

Konan: ....................

 

Itachi: Katakan sesuatu (ekspresinya biasa-biasa saja).

 

Konan: Mati saja sana.

 

Itachi: Tidak ingin.

 

Konan: Kalau begitu aku pindah kelompok saja.

 

Itachi: Silahkan.

 

Mereka berdua tidak berpasangan hanya karena satu alasan: mereka sama-sama orang yang tidak pintar untuk mencari bahan obrolan. Nggak masalah sebenarnya jika seandainya kesunyian tidak terasa menjemukan.

 

7. Seandainya Konan berpasangan dengan Kisame:

 

Kisame: Aku butuh bantuanmu.

 

Konan: Mati saja sana... aku malas membantu peranakan ikan hiu.

 

Kisame: (Angkat bahu lalu membeli koran untuk membungkus ikan-ikan yang baru dipancingnya dari sungai).

 

Konan benci ikan. Kisame selalu mendatanginya kalau ia butuh kertas-kertas untuk membungkus ikan-ikan yang yang dipancingnya sebagai makan malam favoritnya. Konan tidak suka salah satu bagian tubuhnya jadi pembungkus ikan yang bau.

 

8. Sendainya Konan berpasangan dengan Zetsu:

 

Zetsu: Hei cewek bunga... kamu kelihatnya lezat.

 

Konan: Mati saja sana... aku nggak mau berpasangan dengan satu orang yang sebenarnya adalah dua orang.

 

Zetsu: Boleh aku mencicipimu? Hey aku mau mencicipnya duluan. Tidak bisa aku yang melihatnya duluan! Bagaimana kamu bisa melihatnya duluan kalau kamu melihatnya dengan mataku! Diam kamu! Tidak kamu yang diam! Beraninya suruh aku diam pakai mulutku sendiri! Hey itu mulutku!! Enak saja bicara dengan mulutku!! Kamu mau mati, ha?! Siapa takut?!! Ayo kita bertanding!

 

Konan: (Meninggalkan Zetsu yang sibuk memukul wajahnya sendiri).

 

Zetsu tidak pernah berhasil mencicipi Konan. Sendainya bisa pun... apa dia suka rasa kertas?

 

9. Seandainya Konan berpasangan dengan Tobi:

 

Tobi: Konan-senpai! Ayo kita menyelesaikan misi dengan tuntas! Tobi 'kan anak baik!

 

Konan: Tuan Madara, Anda tidak perlu melakukan sandiwara itu di depan saya.

 

Tobi: Oh ya... benar. Jadi? Apa ada partner yang cocok denganmu sejauh ini?

 

Konan: Maaf tuan Madara, tetapi mereka semuanya tidak cocok.

 

Tobi: Yah... kalau begitu kamu akan tetap menjadi partner-nya Pein.

 

Konan berubah menjadi ribuan bangau kertas lalu terbang jauh sampai menemukan Pein di atas sebuah menara di desa Amegakure.

 

10. Kenapa Konan berpasangan dengan Pein:

 

Pein: (Duduk di atas puncak menara dengan menyandarkan satu lengannya di atas lututnya) Sudah kembali cewek origami?

 

Konan: Diam atau kubunuh kamu... (berkata dengan suara lembut).

 

Pein: (Sedikit tersenyum menantang) coba saja.

 

Konan: (Pipinya sedikit bersemu, tetapi hanya sekilas. Lalu ia berjalan dan memeluk Pein dari belakang).

 

Yap jadi... jangan tanya kenapa Konan mau berpasangan dengan Pein... atau kamu akan dibunuhnya...

 

TAMAT

Selasa, 26 Agustus 2014

Forgetten Bonds Ch2

Diposting oleh Unknown di 09.51 0 komentar

Chapter 2: Sebuah Pertemuan



Konoha International High School. Dipenuhi anak-anak konglomerat dan standar pengajarannya paling unggul dibandingkan sekolah lain.
Mobil Honda Jazz berwarna kuning itu memasuki halaman sekolah. Dia memarkirkan sembarangan mobilnya dan melempar kunci mobilnya kepada valet. Naruto berlari menuju lokernya untuk mengambil buku-bukunya.
‘Sial! Tinggal 10 menit lagi bel masuk berbunyi’ batin Naruto
Dia memencet tombol di pintu lift. Tak lama, pintu lift terbuka dan Naruto masuk. Kelas yang akan dimulai berada di lantai 4 yaitu kelas Biologi. Pintu lift pun terbuka dan ia berlari menuju kelasnya yang berada di ujung lorong.
Tanpa dia sadari, ia menabrak seseorang dan terjatuh.
‘Sepertinya, ada sesuatu yang lembut di bawahku’
Ketika ia melihatnya, ia terkejut. Ternyata seorang gadis berada di bawahnya. Masih terbengong dengan kejadian tersebut, Naruto terdiam.
“Ma...maaf? Bi...bisakah anda me..nyingkir?” tanya gadis itu
Gomen. Aku tak sengaja” kata Naruto
Ketika Naruto bangkit, terdengar suara bel masuk. Ya, Naruto terlambat. Teringat akan kelasnya dan guru yang mengajar, Naruto segera berlari.
Gadis itu menggelengkan kepalanya. Surai indigonya bergoyang-goyang mengikuti arah kepalanya. Hinata, gadis itu heran dengan tingkah Naruto.
‘Ah, aku harus masuk kelas!’ batin Hinata
Hinata berlari menuju kelas yang dicarinya. Tampaknya dia kebingungan. Maklum, dia murid baru di sekolah ini. Dia mengikuti arah yang Naruto lalui. Hinata bertemu seorang guru dan menanyakan kelasnya. Kebetulan, guru itu akan mengajar di kelasnya.
Sementara itu Naruto masuk ke kelasnya. Sebuah keberuntungan baginya. Guru yang mengajar belum masuk. Naruto berdigik ngeri membayangkan hukuman apa nantinya.
Naruto melihat teman ‘pantat ayam’-nya sedang duduk sambil mendengarkan lagu melalui earphone.
“Oi Teme!” sapa Naruto
Urusai!” balas Sasuke
“Oi semua!!! Bakoro datang”
Dalam beberapa detik, kelas yang tadinya diam semakin diam (?). Naruto mau tak mau pun segera duduk. Keringatnya bercucuran. Naruto ketakutan sama Bakoro-sensei (Baka Orochimaru).
Orochimaru, seorang guru Biologi pecinta ular. Kulitnya putih dan sepucat mayat. Rambut hitamnya panjang dan matanya kuning seperti ular. Bakoro sangat protektif  pada ular. Bahkan, objek penelitian yang mengharuskan ular, dia ganti dengan katak. Supaya ularnya dapat makanan gratis.
Ohayou minna-san” sapa Orochimaru
Ohayou Ba...eh, Orochimaru-sensei” balas siswa sambil nyengir gaje
‘huh. Hampir aja ketahuan’
‘Kalo ketahuan, habislah kita’
‘Bisa jadi santapan Manda nih’
“Oke, hari ini buka halaman 375. Kerjakan latihan soal itu 1-50”
“What the..?!” siswa kaget dengan tugas yang diberikan
“By the way, ada murid baru masuk di kelas kalian. Silahkan masuk”
Gadis itu masuk ke kelas. Dia menundukkan kepala. Mungkin karena malu. Kulitnya putih, matanya juga putih dan rambutnya berwarna indigo.
WAIT!!!!
‘Indigo?!’ teriak inner Naruto
“KAU!!!” teriak Naruto sambil berdiri dan menunjuk ke arah gadis itu
Gadis itu dan siswa lainnya menoleh ke arah Naruto. Naruto terkejut dengan perilakunya.
“Hm, Naruto-kun. Kau mengenalnya?” tanya Bakoro sambil bernada genit.
Naruto dan lainnya berdigik ngeri sekaligus geli dengan nada bicara Bakoro tadi. Mungkinkah dia......?
“Tidak” jawab Naruto dengan suara lantang.
“Baiklah. Perkenalkan dirimu, Nona” perintah Orochimaru
“Na...namaku Hyu...Hyuuga Hi..nata. Salam ke..nal” ucap Hinata gugup
“Wah, kayaknya ada yang cocok jadi rapper di sini” seru Kiba
“Inuzuka-san, DIAM!!!” teriak Orochimaru yang menggunakan toa
“Nona Hyuuga, duduk di sebelah laki-laki yang tadi berteriak padamu, Naruto-kun”
“Hai`”
“Kerjakan tugas sekarang! Dan kau, Namikaze-kun, sebagai hukumanmu yang berteriak tadi, temani Hinata berjalan-jalan di sini saat istirahat” ucap Orochimaru sambil melangkah keluar kelas.
Naruto tertunduk lesu akan hukumannya. Menemani seorang gadis? NO!!! Bisa-bisa pamor Naruto hilang.
‘Kiamat akan datang’ jerit inner Naruto
Naruto melirik gadis yang tengah mengeluarkan buku. Begitu manis. Naruto mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas. Para cewek menatapnya dengan tatapan membunuh, sedangkan cowok hanya nyengir gaje menatap Hinata.
“Na..mikaze-san?” panggil Hinata
“Naruto. Panggil saja Naruto” jawab Naruto
“Hai`. Bi..bisa pinjam buku..mu?” tanya Hinata
“Tentu saja. Kita akan menggunakannya bersama-sama” ucap Naruto
‘Rasanya, aku mengenal Hinata. Akh, itu hanya perasaanku saja”
‘Sepertinya, aku pernah melihat Naruto. Tapi di mana ya?’
Karena hanya memakai satu buku, mau tak mau mereka duduk berdekatan. Tanpa terasa, mereka duduk bersebelahan tanpa jarak. Teman-teman Naruto terpana dan menyeringai seperti serigala.
“Cieeee, Naruto lagi PDKT” teriak Kiba
“Diam Kiba” bantah Naruto
“Sudahlah, jangan ganggu mereka” ucap Ino
“Mereka berdua serasi ya” ujar Sakura
Mendokusai
“Hn”
Naruto membantah semua perkataan temannya. Tanpa Naruto sadari, Hinata sudah mulai memainkan jari-jarinya. Pipinya yang tembem mulai memerah. Rambutnya menutupi paras cantiknya.
“Kyaaa.... Kawai, Hinata-chan” jerit Sakura
BRUKKK
Semua orang di ruangan itu menoleh. Terkejut? Tentu saja. Bagaimana tidak, seorang gadis sudah pingsan dan terjatuh. Siapa lagi kalau bukan putri malu kita? Hyuuga Hinata.
Keadaan kelas yang sebelumnya tenang-ribut jadi panik. Semua orang berbondong-bondong membawa Hinata ke UKS. Sakura dan Ino berlari mendahului Naruto dan Kiba yang menggendong Hinata. Koridor sekolah yang semula tenang mulai ribut.
Keadaan ini menarik perhatian siswa kelas lain. Mereka segera berlari keluar kelas dan menyaksikan pandangan itu. Ino yang panik mondar-mandir di sekeliling mereka. Naruto dan kiba tampak sangat kelelahan. Sedangkan Sakura, gadis itu mengipasi Hinata sambil berkata “tarik napas, hembuskan”.
Siswa kelas lain sweetdrop melihat kejadian ini. Mereka tidak menyangka, kejadian kecil seperti ini, dibesar-besarkan seperti sudah akhir dunia saja.
“Ino, buka pintu UKS” teriak Naruto
Hai`
“Sakura, panggil Shizune-sensei” seru Kiba
“Shizune-sensei” teriak Sakura membahana di koridor sekolah
Tak berapa lama, tampak seorang wanita berambut hitam pendek mendekati mereka.
“Ada apa ini?” tanya Shizune sambil menepuk bahu Naruto
“Kyaaa..... Hantu” teriak Naruto kaget dan ikuti teman-temannya
Shizune cengo dengan keadaan ini, dan muncul perempatan di dahinya.
TAKKK
Ittai” ringis Naruto dkk.
“Hinata pingsan” jawab Ino setelah meringis
“Baiklah, akan aku periksa. Sekarang kembalilah kalian ke kelas. Kecuali Naruto”
“Hah?! Kenapa aku?” tanya Naruto tak terima
“Naruto, tunggu di luar. Jangan mengintip” teriak Shizune.
“Daaa Naruto. Selamat bersenang-senang” pamit Kiba, Ino dan Sakura sambil melambaikan tangan
Naruto mendengus kesal. Bisa-bisanya ia tinggal teman-temannya untuk seorang gadis yang pingsan. Naruto mulai ngomel-ngomel gak karuan.
“Dia baik-baik saja. Sebentar lagi juga bangun. Kamu tungguin ya” kata Shizune setelah memeriksa Hinata. Shizune melepaskan stetoskopnya dan hendak keluar ruangan.
“Tapi, Shizune-sensei....”
“Jangan membantah. Dia pacarmu. Jadi, seharusnya kamu tungguin dia sadar” ucap Shizune sambil melewati pintu UKS
“Dia bukan pacarku!” teriak Naruto yang sudah blushing.
Sayang sekali nasibmu Naruto. Tadi ditinggal temanmu. Sekarang penjaga UKS pergi. ‘Kapan sih gadis ini bangun? Sudah lapar nih’ batin Naruto
Karena ruangan UKS rada sejuk, Naruto mulai ketiduran. Tangannya dijadikan bantal. Dia tertidur di samping Hinata yang sedang pingsan.
Kring...........
Bel istirahat berbunyi. Naruto bangun secara tiba-tiba. Hinata mulai mendapatkan kesadarannya dan bangkit dari tempat tidur. Hinata kaget ketika melihat siapa yang telah menunggunya.
“Na...Naruto-kun”
“Eh, Hinata ayo kita ke kantin. Sudah lapar nih”
Naruto menarik tangan Hinata secara tiba-tiba dan Hinata terpaksa mengikutinya. Naruto mengajak Hinata untuk makan ramen. Setelah memesan dua porsi ramen, NaruHina menunggu pesanan di tempat yang sudah disediakan.
“Selamat makan” kata Naruto sambil mengambil sumpit
Naruto segera memakan ramennya dengan periode yang singkat. Hinata hanya bingung dengan perilaku Naruto. ‘Mungkin dia sangat menyukai ramen’ pikir Hinata.
“Ramen di sini tidak seenak ramen di kedai Ichiraku” bisik Naruto
Penjual ramen hanya mendengus kesal. Dia sudah terbiasa mendengar perkataan Naruto, sekalipun Naruto sedang berbisik. Maklum, frekuensi suara Naruto saat berbisik itu seperti berbicara normal.
Hinata hanya mendengarkan Naruto berbicara sambil memakan ramen miliknya. Tak terasa, Hinata sudah menghabiskannya. Hinata segera mengelap mulutnya.
“Ayo Hinata, 20 menit lagi bel masuk. Kita jalan-jalan” ajak Naruto
‘Jalan-jalan? Ah, mungkin karena hukumannya tadi’ pikir Hinata
Hai`
Naruto segera membayar ramen itu sambil berlalu pergi. Hinata berusaha mengejar Naruto yang sudah pergi. Tapi, tubuhnya masih lemah karena pingsan tadi. Akhirnya, Hinata dapat menyelaraskan langkahnya dengan Naruto.
Mereka berjalan mengelilingi halaman sekolah. Dari lantai satu sampai lantai empat. Naruto menjelaskan setiap ruangan yang terdapat di sekolah itu. Hinata menyimak penjelasan tersebut dengan santai.
“Di sebelah sana ada ruang musik, laboraturium Biologi, gudang, dan ruang teater, serta tiga kelas X, empat kelas XI, dua kelas XII juga toilet” jelas Naruto ketika mereka berada di lantai empat.
Kuso! Sisa 5 menit lagi. Ayo ke kelas” ajak Naruto dan Hinata mengikutinya.
Ketika mereka sampai di kelas, teman sekelasnya nyengir gaje melihat mereka berdua.
“Ada apa?” tanya Naruto.
Semua temannya menggelengkan kepala disertai seringai jahat. Naruto terkejut dengan keadaan kelasnya. Tidak pernah kelasnya menjadi seperti ini. Semenjak Hinata datang, Naruto merasa dirinya diejek-ejek.
Naruto hanya mendeathglare teman-temannya sambil berjalan ke tempat duduknya. Hinata mengekori Naruto. Jari-jarinya sedang ia mainkan, pertanda dia sudah gugup.
Naruto memandang ke arah langit. Awan putih bergerak ke sana kemari.
‘Kenapa mimpi itu terasa begitu nyata? Apakah itu pernah terjadi? Rasanya tak mungkin. Dan siapa wanita di mimpi itu?’ pikir Naruto

Sabtu, 19 Juli 2014

Omake of Our Story

Diposting oleh Unknown di 13.51 0 komentar

                                    Omake of Our Story


Iwa Junior High School…
Dipagi yang indah, hari pertama masuk sekolah. Semua murid masuk ke kelas setelah mendengar bunyi bel.
DeiKuro
Omake:
Iwa Junior High School, Perpustakaan…
Bulan Februari, dimana musimnya ujian. Apalagi kelas 9 yang akan mengikuti ujian kelulusan. Sekarang murid kelas 9-2 sedang berada di perpustakaan, belajar. Karena esok hari akan ada ujian bahasa Inggris. Jadi seluruh murid kelas 9-2 diharuskan untuk belajar agar mereka bisa mendapatkan nilai yang sempurna. Di sinilah pasangan yang paling kompak sedang belajar di perpustakaan. Berulang kali si pemuda bertanya kepada sang gadis, tapi berulang kali juga si gadis tetap menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan dengan sabar.
“Kurotsuchi, kalau arti ‘she is my best friend’ apa?”Tanya seorang cowok berambut blonde, bermata biru samudra kepada seorang gadis yang berada di sampingnya.
“Itu artinya ‘dia adalah teman terbaikku’”jawab gadis itu, Kurotsuchi yang sedang membaca sebuah buku novel kepada cowok tadi, Deidara.
“Kalau arti ‘I will be waiting for you’ apa”Tanya Deidara lagi.
“Itu artinya ‘aku akan menunggumu’”jawab Kurotsuchi lagi tanpa mengedarkan pandangannya dari buku tersebut.
‘Lho dia nggak nyadar, ya?’tanya Deidara dalam hati. Tiba-tiba sifat jahilnya muncul. ‘Hehehe… aku dapat ide.’gumamnya dalam hati.
“Kalau arti ‘I love you’apa?”Tanya Deidara.
“Itu artinya ‘aku mencintaimu’”jawab Kurotsuchi tanpa sadar.
‘Lah dia masih nggak nyadar?’tanya Deidara dalam hati.
“Coba ulang sekali lagi, kurang jelas”pinta Deidara.
“Hah.. itu artinya aku men.. hmmp”Kurotsuchi tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Kini mukanya sudah merah padam menahan malu. Bagaimana tidak? Tadi ia mengatakan kalimat yang kalau didengar setiap orang pasti akan seperti merasa terbang ke langit ketujuh –lebay-
“Hey Kurotsuchi kamu kenapa? Kok mukamu merah? Sakit,ya?”Tanya Deidara seraya meletakkan telapak tangannya di dahi Kurotsuchi.
“A..aku t..ti..dak apa-a..apa kok D..Deidara? A..aku ng..gak s..sakit kok.”jawab Kurotsuchi terbata-bata akibat gugup+malu. Jujur saja perlakuan seperti ini membuatnya grogi dan malu bukan main.
‘Ya ampun Deidara nggak peka banget sih jadi cowok, baka’umpat Kurotsuchi dalam hati.
“Kurotsuchi apa sih jawabannya. Karena nggak jelas, ya aku tanya lagi.”kata Deidara sambil pasang pose berpikir.
“T..tapi nggak mungkin `kan kalau kamu nggak tahu Deidara.”balas Kurotsuchi seraya menenangkan dirinya.
“Ya karena aku nggak tahu, makanya aku tanya sama kamu. Kamu kan jago bahasa Inggris.”
“Iya sih tapi, masa kalimat itu saja kamu nggak tahu?”
“Apa dong Kurotsuchi, nggak jelas nih.”
“O..oke.”kata Kurotsuchi yang mulai gugup (lagi). Ia pun mulai melanjutkan kalimatnya.
“I..itu ar..ti..nya a..a..ku me..men-”belum sempat Kurotsuchi melanjutkan kalimatnya, Deidara malah mencium pipinya seraya berkata:
“I love you too Kuro-chan”
Blushh…
“A..aku mau pulang ah!”kata Kurotsuchi seraya merapihkan buku-bukunya. Dia sengaja soalnya dia agak er.. salting bukan agak lagi tapi benar-benar salting. Setelah selesai ia segera keluar. Deidara yang agak kaget kenapa tiba-tiba Kurotsuchi terlihat gugup begitu, ia segera mengejarnya.
“E..eh Kurotsuchi mau ke mana?”Tanya Deidara seraya mengikuti langkah Kurotsuchi.
“Mau pulang!”seru Kurotsuchi agak kesal+malu. Buktinya mukanya saja masih merah.
“Ku antar, ya?”
“Ogah!!”seru Kurotsuchi yang membuat Deidara langsung gubrak.
“Ayo dong, besok kan hari minggu, kencan yuk, kuajak ke Disney Land deh.”
“Enggak mau!!” seru Kurotsuchi kesal. Bagaimana tidak? Tiap kali kencan, apalagi ke Disney Land, yang memilih wahana selalu Deidara. Mau tidak mau Kurotsuchi harus ikut. Parahnya Deidara selalu memilih wahana yang ekstrem. Ia jadi teringat pas kencan pertamanya dengan Deidara. Walaupun belum pacaran kan nggak apa-apa toh pdkt gitu. (Author: pantesan si Kuro nggak mau ikut, habisnya selalu main-main ke wahana ekstrem, ckckck – dibom C4-)
“Ayo dong, aku janji deh besok yang pilih wahana yang akan kita naiki kamu, janji”
“Awas, ya kalau enggak.”ancam Kurotsuchi. Deidara hanya mengangguk.
“Ya sudah kalau begitu ayo pulang!”ajak Deidara seraya menarik tangan Kurotsuchi dan menggenggamnya lembut. Sedangkan yang tangannya digenggam hanya bisa blushing (lagi) tanpa tahu mau berkata apa.
Ooh… indahnya cinta…

Forgetten Bonds Ch1

Diposting oleh Unknown di 13.47 0 komentar

                         Forgotten Bonds





Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre        :  Romance, Drama
Pairing      :  NaruHina, SasuSaku, GaaMat
Rate          : T
Summary  :
Naruto telah menjalin ikatan dengan Hinata dari kecil tanpa disadari keduanya. Sayangnya, ikatan itu dilupakan oleh Naruto karena ia menderita amnesia akibat kecelakaan. Hanya sepasang kalung yang dipakai keduanya sebagai pengingat ikatan mereka. 
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

                             Chapter I: Mimpi


Bintang-bintang bertaburan di langit. Memancarkan sinarnya untuk menerangi bumi di malam hari. Bulan pun tak kalah sinarnya memancarkan dengan lembut seakan memberikan kasih sayangnya.
Di rumah mewah itu, tampak dipenuhi banyak orang. Para maid berjalan menyiapkan makanan sedangkan para butler menawarkan minuman pada setiap tamu. Tersirat kebahagiaan di setiap wajah di rumah itu. Terlebih lagi tuan dan nyonya dari acara ini. Keluarga Hyuuga dan keluarga Namikaze sepakat mempertunangkan kedua anaknya.
Hyuuga Hikari dan Namikaze Kushina tampak berbincang-bincang sambil menggandeng tangan kedua anaknya. Namikaze Naruto, putra tunggal Namikaze Minato dan Namikaze Kushina. Memiliki rambut pirang, warna kulit tan,sepasang bola mata safir seperti ayahnya dan dengan tanda lahir kumis kucing masing-masing 3 di setiap pipinya.
Hyuuga Hinata, putri sulung Hyuuga Hiashi dan Hyuuga Hikari. Memiliki rambut pendek sebahu berwarna indigo, kulit seputih susu dan mata seperti mutiara. Hinata tampak cantik dengan dress selutut berwarna lavender dengan aksen pita di punggungnya. Tak lupa rambutnya disemat sebuah jepitan untuk menyempurnakan penampilannya. Hinata tampak serasi dengan Naruto yang menggunakan kemeja berwarna putih dan jas berwarna lavender.
“Kaa....-san” panggil Hinata yang bersembunyi di balik punggung ibunya.
“Ada apa, Hinata-chan?” suara lembut ibunya menyahut
“Hm...di...dia si....siapa?” tanya Hinata sambil menunjuk ke arah Naruto
Naruto yang melihat Hinata tersenyum lebar dan mendekati Hinata
“Halo Hinata. Aku Naruto”
“Hm.. ha...halo Naru...to-kun”
Hikari dan Kushina hanya tersenyum melihat tingkah keduanya. Tak jauh dari situ, tampak Hiashi dan Minato merundingkan sesuatu.
“Hm, sebaiknya acara ini dimulai. Naruto tampak tidak sabaran” kata Minato sambil tertawa kecil dan menatap putranya.
“Hn. Apa kau bawa hadiahnya, Namikaze-san?”
“Tentu saja”
“Apa mereka mengerti?” tanya Hiashi
“Kurasa tidak. Mereka masih anak kecil berumur 4 tahun” sahut Minato
Kedua tuan tersebut berjalan mendekati anak-anaknya. Setelah mengalihkan perhatian semua orang, mereka memulai acara tersebut. Acara pertunangan antara Namikaze Naruto dan Hyuuga Hinata.
“Terima kasih kepada para tamu yang sudah menyempatkan untuk hadir di acara ini. Kami akan mempertunangkan kedua anak kami, Naruto dan Hinata. Sebagai tanda ikatan mereka, kami sudah menyiapkan sesuatu ”
Tepuk tangan terdengar dari para tamu. Tampak Minato mendekati keduanya dan menyematkan kalung di leher keduanya. Para tamu berdecak kagum. Kalung itu kelihatan sederhana, tetapi tetap terlihat elegan. Kalung emas putih dengan sebuah berlian berukir sebagai liontin kalung tersebut.
Naruto memandang wajah ayahnya sambil bingung. Sedangkan Hinata, pipinya terlihat memerah setelah dipandangi semua orang. Hinata melirik kalung yang tadi disematkan oleh Minato.
Setelah selesai acara menyematkan kalung, Naruto memegang tangan ayahnya.
“Ada apa Naru-chan?” tanya Minato lembut.
“Kenapa kalung? Aku kan laki-laki, bukan perempuan” tanya Naruto.
Semua orang di ruangan itu tampak tersenyum geli mendengar penuturan ahli waris Namikaze Group. Sedangkan Hinata bingung, mengapa dirinya dan Naruto mendapatkan kalung yang sama?
~~
“Kuso!!! Mimpi itu lagi. Mimpi aneh” teriak Naruto.
‘Sial! Aku terlambat!’batin Naruto melihat jam wekernya
Naruto langsung bangkit dari tidurnya dan berlari ke arah kamar mandi. Terdengar guyuran air yang sangat cepat dari arah kamar mandi. Setelah mandi, Naruto segera mengenakan seragam dan menyambar tasnya di meja belajar.
“Kaa-chan,Tou-chan, aku berangkat” teriak Naruto setelah menyambar roti panggang.
Secepat mungkin ia memakai sepatu dan masuk ke mobilnya. Deru mobil terdengar ketika ia menjauh dari rumahnya.
“Anak itu selalu saja terlambat” keluh Kushina
Minato tau ke mana arah pembicaraan ini. Ujung-ujungnya, dia akan dijadikan pelampiasan kemarahan istrinya. Istrinya selalu menganggap Minato terlalu memanjakannya.
“Kapan anak itu mau mengingat tunangannya?” tanya Minato sembari mengalihkan pembicaraan.
“Hey! Iya juga ya. Seandainya kecelakaan itu tidak terjadi” Kushina yang tadinya mau protes, sekarang terbawa pembicaraan baru.
Minato melihat Kushina bersedih, segera memeluknya.
“Tidak apa-apa. Beruntung dia selamat” hibur Minato
“Tapi...”
“Nanti kita akan beritahu dia, Kushu-chan” ucap Minato. Kushina pun mengeratkan pelukan mereka.

Selasa, 01 Juli 2014

Danna, un

Diposting oleh Unknown di 12.38 0 komentar

                  DANNA,UN





Disclaimer           :Masashi Kishimoto
Rate                     :T
Genre                   :Hurt
Pairing                 :SasoDei
Warning              :Bahasa terlalu kaku, gak nyambung,dll
Summary            :
Kau tinggalkan aku dengan sejuta kenangan. Saling bertengkar akibat arti seni. Hal-hal seperti itu yang kurindukan. Tapi semuanya berbeda ketika kau pergi. Hatiku terasa kosong. Datang dan temuilah aku~
~Danna,un~
~Deidara POV~
“Dei...” panggil Konan
“Tinggalkan aku sendiri!” jawab Deidara
“Ayo Konan” ajak Pein
Kulirik dari ekor mataku, anggota lainnya telah beranjak pergi. Yang tesisa adalah Konan dan Pein. Konan tampaknya enggan meninggalkanku.Akhirnya, Konan menerima ajakan Pein. Anggota lain sedang menjalankan misi yang diberikan Pein.
“Danna,un” bisikku lirih
~Flashback
“Ada apa sih Pein?” tanya Hidan
“Kalau tidak berhubungan dengan uang, aku pergi”
“Aku tidak sabar dengan misi lain” kata Zetsu
“Aku ingin menangkap jinchurikki”  kata Kisame
“Padahal baru mau buat bom,un” gerutuku
“Ini penting” ucap Itachi
“Dengarkan. Sasori telah mati di tangan Nenek Chiyo dan Sakura” jelas Pein
Anggota lainnya sangat terkejut. Terlebih lagi aku. Apakah aku salah dengar?
“Hah. Aku pasti salah dengar,un” ucapku
“Tidak” tolak Pein
Hati ini serasa ditusuk beribu kunai. Partnerku telah pergi.
“Tidak mungkin! Danna tidak mati” teriakku histeris
“Dei, bersabarlah” hibur Konan
“Cih, anak itu....” Kata-kata Hidan terhenti karena Pein mendeathglarenya
“Sekarang, pergi laksanakan misi” ucap Pein
~Flashback end
Aku beranjak ke kamarku dan Sasori. Di kamar, aku hanya berbaring di tempat tidur dan menangis. Ketika kuraba di sebelahku, tak ada lagi boneka kayu. Yang ada hanya kekosongan menghampiriku.
Kulihat sisi lain kamarku. Banyak terdapat boneka milik Sasori. Bonekanya begitu cantik tapi mematikan. Pekerjaannya sangat rapi. Hanya satu benda di meja Sasori yang menarik perhatianku. Segera kuambil benda itu. Sebuah pigura tua dengan foto lusuh di dalamnya. Tampak pasangan suami istri sedang berfoto dengan menggendong seorang bayi berambut merah.
“Sekarang, kau senang Danna. Danna bisa berkumpul lagi dengan keluarga,un. Seperti dulu,un” kataku seraya mengembalikan pigura itu.
Karena merasa gerah, aku segera mandi. Kemudian, aku tertidur.
‘Seni adalah ledakan’
‘Seni adalah sesuatu yang abadi’
‘Tidak, seniku lebih baik daripadamu’
“Danna!!!” seruku. Ternyata aku bermimpi. Tentang Sasori.
“Deidara, kau dipanggil ketua” kata Zetsu
“Zetsu! Jangan mengagetkanku” bentakku. Tapi Zetsu sudah masuk ke dalam tanah lagi.
‘Ada apa sih?!’ batinku seraya berlari menemui Pein
“Deidara, ini partner barumu” ucap Pein ketika aku menemuinya.
Kulihat, ada seseorang yang menggunakan topeng bermotif lolipop, berwarna jeruk dan hanya terdapat satu lubang.
“Halo Deidara-senpai. Aku Tobi” sapanya riang
“Begitu cepatnya kalian menemukan pengganti Danna?” seruku kesal
“Ini demi keberhasilan tim” kata Pein
“Lagipula, kenapa kamu mengharapkan Sasori kembali. Dia itu lemah. Sudah sepantasnya dia mati” kata Hidan
PLAKKK
Aku menampar Hidan. Hatiku sakit ketika dia berkata seperti itu. Anggota lain tampak kaget dengan kelakuanku. Kepalaku sudah terasa sangat panas.
“Sekali lagi kamu menjelek-jelekkan Danna, aku akan menghancurkanmu,un” ucapku dingin
“Deidara” panggil Konan
“Terima kasih Konan. Hanya kamu yang mengerti aku” ucapku kemudian berlalu pergi
“Hidan, ikuti aku” ucap Pein kemudian berjalan ke kantornya
“Kamu harus mempertanggungjawabkan perkataanmu” balas Konan
“Hn” gumam Itachi
“Aku akan menyusul Deidara” usul Kisame
“Jangan, biarkan dia sendiri” kata Itachi
~Another place~
Ku berlari menuju tempat itu. Tempat yang memiliki banyak kenangan. Kenangan bersama Danna. Sebuah danau yang terletak di tengah hutan.
Ketika sampai di tempat itu, aku duduk di bawah pohon. Kupandangi bulan. Langit sangat terang karena bulan purnama.
‘Seni adalah ledakan’
‘Bukan, seni adalah sesuatu yang abadi’
‘Sasori no danna’
‘Hah, dia yang akan menjadi partnerku? Tampaknya dia akan mati muda’
‘Danna,un’
Ingatan itu terus berputar di kepalaku. Tampaknya aku belum merelakan Sasori.
“Danna, sekarang kamu bisa berkumpul dengan keluargamu,un. Apakah sekarang kamu senang,un?” kataku sambil menatap bulan. Tanpa terasa, setitik air jatuh dari mataku.
“Lalu, kau meninggalkan aku,un. Apa kau senang sekarang? Danna tidak perlu mendengarkan aku lagi,un. Danna memupuskan perasaanku” kataku lagi
“Baka!Baka!Baka! Baka no danna. Kenapa aku mengharapkan kamu kembali,un. Seharusnya aku senang,un” seruku sambil memetik bunga dandelion
“Kami-sama, izinkan aku bertemu Danna untuk terakhir kalinya” pintaku sambil menatap bulan dan meniup bunga dandelion.
“Kau tau Danna? Kau seperti bunga ini,un. Berlagak kuat, tetapi sangat rapuh,un” ucapku
“Dan kau menyamakan aku dengan bunga itu?” tanya seseorang
‘Suara itu. Suara Danna. Apakah aku bermimpi?’ batinku
“Ini mimpi. Aku mendengar suara Danna”
“Kamu tidak bermimpi, Dei. Ini aku. Lihatlah” sahut seseorang
Aku memalingkan wajahku ke arah kanan. Tampak seorang pemuda dengan rambut merah, bermata hazel dan memiliki wajah baby face. Dia dikelilingi cahaya. Menandakan kalau dia sudah pergi.
“Danna,un” seruku
“Tadaima” ucapnya
“Okaeri, Danna” balasku riang
“Kami-sama mengabulkan doamu. Kami-sama memberikanku waktu untuk menemuimu. Kau merindukanku?” jelasnya seraya mendekat padaku
“Sangat Danna. Aku merindukanmu,un” kataku setelah berhasil memeluknya
“Anak manja. Padahal aku baru meninggalkanmu satu hari. Kamu juga memarahi semua anggota”
“Eh?!” terlihat semburat merah di pipiku.
“Dan kamu akan meninggalku lagi,un” balasku
“Menangislah Dei” ucapnya
Tangisku tumpah ketika dia memelukku. Kerinduan ini terbalas. Sekarang, Danna sedang mengusap kepalaku.
“Danna...hiks...baka. Baka no danna. Danna bilang..hiks.., aku akan mati muda. Ternyata Danna yang..hiks.. pergi duluan” isakku
“Aku memang bodoh, Dei. Kata-kata itu menyerangku” ucapnya sambil tertawa kecil
“Deidara yang aku kenal, tidak secengeng ini. Deidara itu sosok yang kuat,un” katanya sambil mengikuti gaya bicaraku
“Danna....” aku tertegun
“Aku tidak akan meninggalkanmu. Jangan bertindak gegabah sehingga pergi menyusulku. Aku akan tetap di sini” katanya sembari menunjuk ke arah jantungku.
“Danna...” balasku
“Waktuku habis. Semoga kita bertemu lagi” katanya sambil berjalan menjauh dariku
Cahaya itu tampak semakin menyilaukan mata. Sosok itu perlahan-lahan memudar.
“Aishiteru, Danna” ucapku sambil memandangi kepergiannya
“Aishiteru, Dei-un” balasnya seraya menghilang
Hati ini terasa bahagia. Tidak ada lagi kepedihan. Sosok itu telah menguatkanku. Sosok yang aku cintai, dan sosok yang telah pergi selamanya.

~Owari,un~
~Omake~
Deidara tampak berjalan senang menuju markas. Di sepanjang jalan, dia bersenandung kecil. Anggota Akatsuki heran dengan perubahan sikap Deidara.
“Halo Tobi” sapanya kepada Tobi
“Deidara-senpai....” balasnya sambil terharu
“Deidara! Kami mengkhawatirkanmu” kata Konan sambil memeluk Deidara
“Ehem” Pein berdehem
“Leader cemburu” ejek Hidan
“Iya. Leader-sama cemburu” seru Tobi
“Tidak menarik kalau tidak ada uang” kata Kakuzu
“Sudahlah” ucap Itachi
“Nggak. Aku gak akan menduakan Pein” kata Konan sambil tertawa kecil
“So sweet...” seru Kisame dan Zetsu
“Lagipula, Konan hanya milik Pein,un. Hanya Pein yang ada di hati Konan” kata Deidara sambil mengedipkan matanya
Seketika itu, Pein dan Konan berblushing ria. Anggota Akatsuki lainnya tertawa melihat sikap Pein dan Konan.
‘Arigato Sasori’ batin semuanya minus Deidara
‘Arigato Danna. Aishiteru,un’ batin Deidara

 

KokorOmou Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos