Chapter 2: Sebuah Pertemuan
Konoha
International High School. Dipenuhi
anak-anak konglomerat dan standar pengajarannya paling unggul dibandingkan
sekolah lain.
Mobil
Honda Jazz berwarna kuning itu memasuki halaman sekolah. Dia memarkirkan
sembarangan mobilnya dan melempar kunci mobilnya kepada valet. Naruto berlari
menuju lokernya untuk mengambil buku-bukunya.
‘Sial!
Tinggal 10 menit lagi bel masuk berbunyi’ batin Naruto
Dia
memencet tombol di pintu lift. Tak lama, pintu lift terbuka dan Naruto masuk. Kelas
yang akan dimulai berada di lantai 4 yaitu kelas Biologi. Pintu lift pun
terbuka dan ia berlari menuju kelasnya yang berada di ujung lorong.
Tanpa
dia sadari, ia menabrak seseorang dan terjatuh.
‘Sepertinya,
ada sesuatu yang lembut di bawahku’
Ketika
ia melihatnya, ia terkejut. Ternyata seorang gadis berada di bawahnya. Masih
terbengong dengan kejadian tersebut, Naruto terdiam.
“Ma...maaf?
Bi...bisakah anda me..nyingkir?” tanya gadis itu
“Gomen. Aku tak sengaja” kata Naruto
Ketika
Naruto bangkit, terdengar suara bel masuk. Ya, Naruto terlambat. Teringat akan
kelasnya dan guru yang mengajar, Naruto segera berlari.
Gadis
itu menggelengkan kepalanya. Surai indigonya bergoyang-goyang mengikuti arah
kepalanya. Hinata, gadis itu heran dengan tingkah Naruto.
‘Ah,
aku harus masuk kelas!’ batin Hinata
Hinata
berlari menuju kelas yang dicarinya. Tampaknya dia kebingungan. Maklum, dia
murid baru di sekolah ini. Dia mengikuti arah yang Naruto lalui. Hinata bertemu
seorang guru dan menanyakan kelasnya. Kebetulan, guru itu akan mengajar di
kelasnya.
Sementara
itu Naruto masuk ke kelasnya. Sebuah keberuntungan baginya. Guru yang mengajar
belum masuk. Naruto berdigik ngeri membayangkan hukuman apa nantinya.
Naruto
melihat teman ‘pantat ayam’-nya sedang duduk sambil mendengarkan lagu melalui
earphone.
“Oi
Teme!” sapa Naruto
“Urusai!” balas Sasuke
“Oi
semua!!! Bakoro datang”
Dalam
beberapa detik, kelas yang tadinya diam semakin diam (?). Naruto mau tak mau
pun segera duduk. Keringatnya bercucuran. Naruto ketakutan sama Bakoro-sensei
(Baka Orochimaru).
Orochimaru,
seorang guru Biologi pecinta ular. Kulitnya putih dan sepucat mayat. Rambut
hitamnya panjang dan matanya kuning seperti ular. Bakoro sangat protektif pada ular. Bahkan, objek penelitian yang
mengharuskan ular, dia ganti dengan katak. Supaya ularnya dapat makanan gratis.
“Ohayou minna-san” sapa Orochimaru
“Ohayou Ba...eh, Orochimaru-sensei” balas
siswa sambil nyengir gaje
‘huh.
Hampir aja ketahuan’
‘Kalo
ketahuan, habislah kita’
‘Bisa
jadi santapan Manda nih’
“Oke,
hari ini buka halaman 375. Kerjakan latihan soal itu 1-50”
“What
the..?!” siswa kaget dengan tugas yang diberikan
“By
the way, ada murid baru masuk di kelas kalian. Silahkan masuk”
Gadis
itu masuk ke kelas. Dia menundukkan kepala. Mungkin karena malu. Kulitnya
putih, matanya juga putih dan rambutnya berwarna indigo.
WAIT!!!!
‘Indigo?!’
teriak inner Naruto
“KAU!!!”
teriak Naruto sambil berdiri dan menunjuk ke arah gadis itu
Gadis
itu dan siswa lainnya menoleh ke arah Naruto. Naruto terkejut dengan
perilakunya.
“Hm,
Naruto-kun. Kau mengenalnya?” tanya Bakoro sambil bernada genit.
Naruto
dan lainnya berdigik ngeri sekaligus geli dengan nada bicara Bakoro tadi.
Mungkinkah dia......?
“Tidak”
jawab Naruto dengan suara lantang.
“Baiklah.
Perkenalkan dirimu, Nona” perintah Orochimaru
“Na...namaku
Hyu...Hyuuga Hi..nata. Salam ke..nal” ucap Hinata gugup
“Wah,
kayaknya ada yang cocok jadi rapper di sini” seru Kiba
“Inuzuka-san,
DIAM!!!” teriak Orochimaru yang menggunakan toa
“Nona
Hyuuga, duduk di sebelah laki-laki yang tadi berteriak padamu, Naruto-kun”
“Hai`”
“Kerjakan
tugas sekarang! Dan kau, Namikaze-kun, sebagai hukumanmu yang berteriak tadi,
temani Hinata berjalan-jalan di sini saat istirahat” ucap Orochimaru sambil
melangkah keluar kelas.
Naruto
tertunduk lesu akan hukumannya. Menemani seorang gadis? NO!!! Bisa-bisa pamor
Naruto hilang.
‘Kiamat
akan datang’ jerit inner Naruto
Naruto
melirik gadis yang tengah mengeluarkan buku. Begitu manis. Naruto mengedarkan
pandangannya ke seluruh kelas. Para cewek menatapnya dengan tatapan membunuh,
sedangkan cowok hanya nyengir gaje menatap Hinata.
“Na..mikaze-san?”
panggil Hinata
“Naruto.
Panggil saja Naruto” jawab Naruto
“Hai`.
Bi..bisa pinjam buku..mu?” tanya Hinata
“Tentu
saja. Kita akan menggunakannya bersama-sama” ucap Naruto
‘Rasanya,
aku mengenal Hinata. Akh, itu hanya perasaanku saja”
‘Sepertinya,
aku pernah melihat Naruto. Tapi di mana ya?’
Karena
hanya memakai satu buku, mau tak mau mereka duduk berdekatan. Tanpa terasa,
mereka duduk bersebelahan tanpa jarak. Teman-teman Naruto terpana dan
menyeringai seperti serigala.
“Cieeee,
Naruto lagi PDKT” teriak Kiba
“Diam
Kiba” bantah Naruto
“Sudahlah,
jangan ganggu mereka” ucap Ino
“Mereka
berdua serasi ya” ujar Sakura
“Mendokusai”
“Hn”
Naruto
membantah semua perkataan temannya. Tanpa Naruto sadari, Hinata sudah mulai
memainkan jari-jarinya. Pipinya yang tembem mulai memerah. Rambutnya menutupi
paras cantiknya.
“Kyaaa....
Kawai, Hinata-chan” jerit Sakura
BRUKKK
Semua
orang di ruangan itu menoleh. Terkejut? Tentu saja. Bagaimana tidak, seorang
gadis sudah pingsan dan terjatuh. Siapa lagi kalau bukan putri malu kita?
Hyuuga Hinata.
Keadaan
kelas yang sebelumnya tenang-ribut jadi panik. Semua orang berbondong-bondong
membawa Hinata ke UKS. Sakura dan Ino berlari mendahului Naruto dan Kiba yang
menggendong Hinata. Koridor sekolah yang semula tenang mulai ribut.
Keadaan
ini menarik perhatian siswa kelas lain. Mereka segera berlari keluar kelas dan
menyaksikan pandangan itu. Ino yang panik mondar-mandir di sekeliling mereka.
Naruto dan kiba tampak sangat kelelahan. Sedangkan Sakura, gadis itu mengipasi
Hinata sambil berkata “tarik napas, hembuskan”.
Siswa
kelas lain sweetdrop melihat kejadian ini. Mereka tidak menyangka, kejadian
kecil seperti ini, dibesar-besarkan seperti sudah akhir dunia saja.
“Ino,
buka pintu UKS” teriak Naruto
“Hai`”
“Sakura,
panggil Shizune-sensei” seru Kiba
“Shizune-sensei”
teriak Sakura membahana di koridor sekolah
Tak
berapa lama, tampak seorang wanita berambut hitam pendek mendekati mereka.
“Ada
apa ini?” tanya Shizune sambil menepuk bahu Naruto
“Kyaaa.....
Hantu” teriak Naruto kaget dan ikuti teman-temannya
Shizune
cengo dengan keadaan ini, dan muncul perempatan di dahinya.
TAKKK
“Ittai” ringis Naruto dkk.
“Hinata
pingsan” jawab Ino setelah meringis
“Baiklah,
akan aku periksa. Sekarang kembalilah kalian ke kelas. Kecuali Naruto”
“Hah?!
Kenapa aku?” tanya Naruto tak terima
“Naruto,
tunggu di luar. Jangan mengintip” teriak Shizune.
“Daaa
Naruto. Selamat bersenang-senang” pamit Kiba, Ino dan Sakura sambil melambaikan
tangan
Naruto
mendengus kesal. Bisa-bisanya ia tinggal teman-temannya untuk seorang gadis
yang pingsan. Naruto mulai ngomel-ngomel gak karuan.
“Dia
baik-baik saja. Sebentar lagi juga bangun. Kamu tungguin ya” kata Shizune
setelah memeriksa Hinata. Shizune melepaskan stetoskopnya dan hendak keluar
ruangan.
“Tapi,
Shizune-sensei....”
“Jangan
membantah. Dia pacarmu. Jadi, seharusnya kamu tungguin dia sadar” ucap Shizune
sambil melewati pintu UKS
“Dia
bukan pacarku!” teriak Naruto yang sudah blushing.
Sayang
sekali nasibmu Naruto. Tadi ditinggal temanmu. Sekarang penjaga UKS pergi.
‘Kapan sih gadis ini bangun? Sudah lapar nih’ batin Naruto
Karena
ruangan UKS rada sejuk, Naruto mulai ketiduran. Tangannya dijadikan bantal. Dia
tertidur di samping Hinata yang sedang pingsan.
Kring...........
Bel
istirahat berbunyi. Naruto bangun secara tiba-tiba. Hinata mulai mendapatkan
kesadarannya dan bangkit dari tempat tidur. Hinata kaget ketika melihat siapa
yang telah menunggunya.
“Na...Naruto-kun”
“Eh,
Hinata ayo kita ke kantin. Sudah lapar nih”
Naruto
menarik tangan Hinata secara tiba-tiba dan Hinata terpaksa mengikutinya. Naruto
mengajak Hinata untuk makan ramen. Setelah memesan dua porsi ramen, NaruHina
menunggu pesanan di tempat yang sudah disediakan.
“Selamat
makan” kata Naruto sambil mengambil sumpit
Naruto
segera memakan ramennya dengan periode yang singkat. Hinata hanya bingung
dengan perilaku Naruto. ‘Mungkin dia sangat menyukai ramen’ pikir Hinata.
“Ramen
di sini tidak seenak ramen di kedai Ichiraku” bisik Naruto
Penjual
ramen hanya mendengus kesal. Dia sudah terbiasa mendengar perkataan Naruto,
sekalipun Naruto sedang berbisik. Maklum, frekuensi suara Naruto saat berbisik
itu seperti berbicara normal.
Hinata
hanya mendengarkan Naruto berbicara sambil memakan ramen miliknya. Tak terasa,
Hinata sudah menghabiskannya. Hinata segera mengelap mulutnya.
“Ayo
Hinata, 20 menit lagi bel masuk. Kita jalan-jalan” ajak Naruto
‘Jalan-jalan?
Ah, mungkin karena hukumannya tadi’ pikir Hinata
“Hai`”
Naruto
segera membayar ramen itu sambil berlalu pergi. Hinata berusaha mengejar Naruto
yang sudah pergi. Tapi, tubuhnya masih lemah karena pingsan tadi. Akhirnya,
Hinata dapat menyelaraskan langkahnya dengan Naruto.
Mereka
berjalan mengelilingi halaman sekolah. Dari lantai satu sampai lantai empat.
Naruto menjelaskan setiap ruangan yang terdapat di sekolah itu. Hinata menyimak
penjelasan tersebut dengan santai.
“Di
sebelah sana ada ruang musik, laboraturium Biologi, gudang, dan ruang teater,
serta tiga kelas X, empat kelas XI, dua kelas XII juga toilet” jelas Naruto
ketika mereka berada di lantai empat.
“Kuso! Sisa 5 menit lagi. Ayo ke kelas”
ajak Naruto dan Hinata mengikutinya.
Ketika
mereka sampai di kelas, teman sekelasnya nyengir gaje melihat mereka berdua.
“Ada
apa?” tanya Naruto.
Semua
temannya menggelengkan kepala disertai seringai jahat. Naruto terkejut dengan
keadaan kelasnya. Tidak pernah kelasnya menjadi seperti ini. Semenjak Hinata
datang, Naruto merasa dirinya diejek-ejek.
Naruto
hanya mendeathglare teman-temannya sambil berjalan ke tempat duduknya. Hinata
mengekori Naruto. Jari-jarinya sedang ia mainkan, pertanda dia sudah gugup.
Naruto
memandang ke arah langit. Awan putih bergerak ke sana kemari.
‘Kenapa
mimpi itu terasa begitu nyata? Apakah itu pernah terjadi? Rasanya tak mungkin.
Dan siapa wanita di mimpi itu?’ pikir Naruto
0 komentar:
Posting Komentar