Sabtu, 19 Juli 2014

Omake of Our Story

Diposting oleh Unknown di 13.51 0 komentar

                                    Omake of Our Story


Iwa Junior High School…
Dipagi yang indah, hari pertama masuk sekolah. Semua murid masuk ke kelas setelah mendengar bunyi bel.
DeiKuro
Omake:
Iwa Junior High School, Perpustakaan…
Bulan Februari, dimana musimnya ujian. Apalagi kelas 9 yang akan mengikuti ujian kelulusan. Sekarang murid kelas 9-2 sedang berada di perpustakaan, belajar. Karena esok hari akan ada ujian bahasa Inggris. Jadi seluruh murid kelas 9-2 diharuskan untuk belajar agar mereka bisa mendapatkan nilai yang sempurna. Di sinilah pasangan yang paling kompak sedang belajar di perpustakaan. Berulang kali si pemuda bertanya kepada sang gadis, tapi berulang kali juga si gadis tetap menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan dengan sabar.
“Kurotsuchi, kalau arti ‘she is my best friend’ apa?”Tanya seorang cowok berambut blonde, bermata biru samudra kepada seorang gadis yang berada di sampingnya.
“Itu artinya ‘dia adalah teman terbaikku’”jawab gadis itu, Kurotsuchi yang sedang membaca sebuah buku novel kepada cowok tadi, Deidara.
“Kalau arti ‘I will be waiting for you’ apa”Tanya Deidara lagi.
“Itu artinya ‘aku akan menunggumu’”jawab Kurotsuchi lagi tanpa mengedarkan pandangannya dari buku tersebut.
‘Lho dia nggak nyadar, ya?’tanya Deidara dalam hati. Tiba-tiba sifat jahilnya muncul. ‘Hehehe… aku dapat ide.’gumamnya dalam hati.
“Kalau arti ‘I love you’apa?”Tanya Deidara.
“Itu artinya ‘aku mencintaimu’”jawab Kurotsuchi tanpa sadar.
‘Lah dia masih nggak nyadar?’tanya Deidara dalam hati.
“Coba ulang sekali lagi, kurang jelas”pinta Deidara.
“Hah.. itu artinya aku men.. hmmp”Kurotsuchi tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Kini mukanya sudah merah padam menahan malu. Bagaimana tidak? Tadi ia mengatakan kalimat yang kalau didengar setiap orang pasti akan seperti merasa terbang ke langit ketujuh –lebay-
“Hey Kurotsuchi kamu kenapa? Kok mukamu merah? Sakit,ya?”Tanya Deidara seraya meletakkan telapak tangannya di dahi Kurotsuchi.
“A..aku t..ti..dak apa-a..apa kok D..Deidara? A..aku ng..gak s..sakit kok.”jawab Kurotsuchi terbata-bata akibat gugup+malu. Jujur saja perlakuan seperti ini membuatnya grogi dan malu bukan main.
‘Ya ampun Deidara nggak peka banget sih jadi cowok, baka’umpat Kurotsuchi dalam hati.
“Kurotsuchi apa sih jawabannya. Karena nggak jelas, ya aku tanya lagi.”kata Deidara sambil pasang pose berpikir.
“T..tapi nggak mungkin `kan kalau kamu nggak tahu Deidara.”balas Kurotsuchi seraya menenangkan dirinya.
“Ya karena aku nggak tahu, makanya aku tanya sama kamu. Kamu kan jago bahasa Inggris.”
“Iya sih tapi, masa kalimat itu saja kamu nggak tahu?”
“Apa dong Kurotsuchi, nggak jelas nih.”
“O..oke.”kata Kurotsuchi yang mulai gugup (lagi). Ia pun mulai melanjutkan kalimatnya.
“I..itu ar..ti..nya a..a..ku me..men-”belum sempat Kurotsuchi melanjutkan kalimatnya, Deidara malah mencium pipinya seraya berkata:
“I love you too Kuro-chan”
Blushh…
“A..aku mau pulang ah!”kata Kurotsuchi seraya merapihkan buku-bukunya. Dia sengaja soalnya dia agak er.. salting bukan agak lagi tapi benar-benar salting. Setelah selesai ia segera keluar. Deidara yang agak kaget kenapa tiba-tiba Kurotsuchi terlihat gugup begitu, ia segera mengejarnya.
“E..eh Kurotsuchi mau ke mana?”Tanya Deidara seraya mengikuti langkah Kurotsuchi.
“Mau pulang!”seru Kurotsuchi agak kesal+malu. Buktinya mukanya saja masih merah.
“Ku antar, ya?”
“Ogah!!”seru Kurotsuchi yang membuat Deidara langsung gubrak.
“Ayo dong, besok kan hari minggu, kencan yuk, kuajak ke Disney Land deh.”
“Enggak mau!!” seru Kurotsuchi kesal. Bagaimana tidak? Tiap kali kencan, apalagi ke Disney Land, yang memilih wahana selalu Deidara. Mau tidak mau Kurotsuchi harus ikut. Parahnya Deidara selalu memilih wahana yang ekstrem. Ia jadi teringat pas kencan pertamanya dengan Deidara. Walaupun belum pacaran kan nggak apa-apa toh pdkt gitu. (Author: pantesan si Kuro nggak mau ikut, habisnya selalu main-main ke wahana ekstrem, ckckck – dibom C4-)
“Ayo dong, aku janji deh besok yang pilih wahana yang akan kita naiki kamu, janji”
“Awas, ya kalau enggak.”ancam Kurotsuchi. Deidara hanya mengangguk.
“Ya sudah kalau begitu ayo pulang!”ajak Deidara seraya menarik tangan Kurotsuchi dan menggenggamnya lembut. Sedangkan yang tangannya digenggam hanya bisa blushing (lagi) tanpa tahu mau berkata apa.
Ooh… indahnya cinta…

Forgetten Bonds Ch1

Diposting oleh Unknown di 13.47 0 komentar

                         Forgotten Bonds





Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre        :  Romance, Drama
Pairing      :  NaruHina, SasuSaku, GaaMat
Rate          : T
Summary  :
Naruto telah menjalin ikatan dengan Hinata dari kecil tanpa disadari keduanya. Sayangnya, ikatan itu dilupakan oleh Naruto karena ia menderita amnesia akibat kecelakaan. Hanya sepasang kalung yang dipakai keduanya sebagai pengingat ikatan mereka. 
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

                             Chapter I: Mimpi


Bintang-bintang bertaburan di langit. Memancarkan sinarnya untuk menerangi bumi di malam hari. Bulan pun tak kalah sinarnya memancarkan dengan lembut seakan memberikan kasih sayangnya.
Di rumah mewah itu, tampak dipenuhi banyak orang. Para maid berjalan menyiapkan makanan sedangkan para butler menawarkan minuman pada setiap tamu. Tersirat kebahagiaan di setiap wajah di rumah itu. Terlebih lagi tuan dan nyonya dari acara ini. Keluarga Hyuuga dan keluarga Namikaze sepakat mempertunangkan kedua anaknya.
Hyuuga Hikari dan Namikaze Kushina tampak berbincang-bincang sambil menggandeng tangan kedua anaknya. Namikaze Naruto, putra tunggal Namikaze Minato dan Namikaze Kushina. Memiliki rambut pirang, warna kulit tan,sepasang bola mata safir seperti ayahnya dan dengan tanda lahir kumis kucing masing-masing 3 di setiap pipinya.
Hyuuga Hinata, putri sulung Hyuuga Hiashi dan Hyuuga Hikari. Memiliki rambut pendek sebahu berwarna indigo, kulit seputih susu dan mata seperti mutiara. Hinata tampak cantik dengan dress selutut berwarna lavender dengan aksen pita di punggungnya. Tak lupa rambutnya disemat sebuah jepitan untuk menyempurnakan penampilannya. Hinata tampak serasi dengan Naruto yang menggunakan kemeja berwarna putih dan jas berwarna lavender.
“Kaa....-san” panggil Hinata yang bersembunyi di balik punggung ibunya.
“Ada apa, Hinata-chan?” suara lembut ibunya menyahut
“Hm...di...dia si....siapa?” tanya Hinata sambil menunjuk ke arah Naruto
Naruto yang melihat Hinata tersenyum lebar dan mendekati Hinata
“Halo Hinata. Aku Naruto”
“Hm.. ha...halo Naru...to-kun”
Hikari dan Kushina hanya tersenyum melihat tingkah keduanya. Tak jauh dari situ, tampak Hiashi dan Minato merundingkan sesuatu.
“Hm, sebaiknya acara ini dimulai. Naruto tampak tidak sabaran” kata Minato sambil tertawa kecil dan menatap putranya.
“Hn. Apa kau bawa hadiahnya, Namikaze-san?”
“Tentu saja”
“Apa mereka mengerti?” tanya Hiashi
“Kurasa tidak. Mereka masih anak kecil berumur 4 tahun” sahut Minato
Kedua tuan tersebut berjalan mendekati anak-anaknya. Setelah mengalihkan perhatian semua orang, mereka memulai acara tersebut. Acara pertunangan antara Namikaze Naruto dan Hyuuga Hinata.
“Terima kasih kepada para tamu yang sudah menyempatkan untuk hadir di acara ini. Kami akan mempertunangkan kedua anak kami, Naruto dan Hinata. Sebagai tanda ikatan mereka, kami sudah menyiapkan sesuatu ”
Tepuk tangan terdengar dari para tamu. Tampak Minato mendekati keduanya dan menyematkan kalung di leher keduanya. Para tamu berdecak kagum. Kalung itu kelihatan sederhana, tetapi tetap terlihat elegan. Kalung emas putih dengan sebuah berlian berukir sebagai liontin kalung tersebut.
Naruto memandang wajah ayahnya sambil bingung. Sedangkan Hinata, pipinya terlihat memerah setelah dipandangi semua orang. Hinata melirik kalung yang tadi disematkan oleh Minato.
Setelah selesai acara menyematkan kalung, Naruto memegang tangan ayahnya.
“Ada apa Naru-chan?” tanya Minato lembut.
“Kenapa kalung? Aku kan laki-laki, bukan perempuan” tanya Naruto.
Semua orang di ruangan itu tampak tersenyum geli mendengar penuturan ahli waris Namikaze Group. Sedangkan Hinata bingung, mengapa dirinya dan Naruto mendapatkan kalung yang sama?
~~
“Kuso!!! Mimpi itu lagi. Mimpi aneh” teriak Naruto.
‘Sial! Aku terlambat!’batin Naruto melihat jam wekernya
Naruto langsung bangkit dari tidurnya dan berlari ke arah kamar mandi. Terdengar guyuran air yang sangat cepat dari arah kamar mandi. Setelah mandi, Naruto segera mengenakan seragam dan menyambar tasnya di meja belajar.
“Kaa-chan,Tou-chan, aku berangkat” teriak Naruto setelah menyambar roti panggang.
Secepat mungkin ia memakai sepatu dan masuk ke mobilnya. Deru mobil terdengar ketika ia menjauh dari rumahnya.
“Anak itu selalu saja terlambat” keluh Kushina
Minato tau ke mana arah pembicaraan ini. Ujung-ujungnya, dia akan dijadikan pelampiasan kemarahan istrinya. Istrinya selalu menganggap Minato terlalu memanjakannya.
“Kapan anak itu mau mengingat tunangannya?” tanya Minato sembari mengalihkan pembicaraan.
“Hey! Iya juga ya. Seandainya kecelakaan itu tidak terjadi” Kushina yang tadinya mau protes, sekarang terbawa pembicaraan baru.
Minato melihat Kushina bersedih, segera memeluknya.
“Tidak apa-apa. Beruntung dia selamat” hibur Minato
“Tapi...”
“Nanti kita akan beritahu dia, Kushu-chan” ucap Minato. Kushina pun mengeratkan pelukan mereka.

Selasa, 01 Juli 2014

Danna, un

Diposting oleh Unknown di 12.38 0 komentar

                  DANNA,UN





Disclaimer           :Masashi Kishimoto
Rate                     :T
Genre                   :Hurt
Pairing                 :SasoDei
Warning              :Bahasa terlalu kaku, gak nyambung,dll
Summary            :
Kau tinggalkan aku dengan sejuta kenangan. Saling bertengkar akibat arti seni. Hal-hal seperti itu yang kurindukan. Tapi semuanya berbeda ketika kau pergi. Hatiku terasa kosong. Datang dan temuilah aku~
~Danna,un~
~Deidara POV~
“Dei...” panggil Konan
“Tinggalkan aku sendiri!” jawab Deidara
“Ayo Konan” ajak Pein
Kulirik dari ekor mataku, anggota lainnya telah beranjak pergi. Yang tesisa adalah Konan dan Pein. Konan tampaknya enggan meninggalkanku.Akhirnya, Konan menerima ajakan Pein. Anggota lain sedang menjalankan misi yang diberikan Pein.
“Danna,un” bisikku lirih
~Flashback
“Ada apa sih Pein?” tanya Hidan
“Kalau tidak berhubungan dengan uang, aku pergi”
“Aku tidak sabar dengan misi lain” kata Zetsu
“Aku ingin menangkap jinchurikki”  kata Kisame
“Padahal baru mau buat bom,un” gerutuku
“Ini penting” ucap Itachi
“Dengarkan. Sasori telah mati di tangan Nenek Chiyo dan Sakura” jelas Pein
Anggota lainnya sangat terkejut. Terlebih lagi aku. Apakah aku salah dengar?
“Hah. Aku pasti salah dengar,un” ucapku
“Tidak” tolak Pein
Hati ini serasa ditusuk beribu kunai. Partnerku telah pergi.
“Tidak mungkin! Danna tidak mati” teriakku histeris
“Dei, bersabarlah” hibur Konan
“Cih, anak itu....” Kata-kata Hidan terhenti karena Pein mendeathglarenya
“Sekarang, pergi laksanakan misi” ucap Pein
~Flashback end
Aku beranjak ke kamarku dan Sasori. Di kamar, aku hanya berbaring di tempat tidur dan menangis. Ketika kuraba di sebelahku, tak ada lagi boneka kayu. Yang ada hanya kekosongan menghampiriku.
Kulihat sisi lain kamarku. Banyak terdapat boneka milik Sasori. Bonekanya begitu cantik tapi mematikan. Pekerjaannya sangat rapi. Hanya satu benda di meja Sasori yang menarik perhatianku. Segera kuambil benda itu. Sebuah pigura tua dengan foto lusuh di dalamnya. Tampak pasangan suami istri sedang berfoto dengan menggendong seorang bayi berambut merah.
“Sekarang, kau senang Danna. Danna bisa berkumpul lagi dengan keluarga,un. Seperti dulu,un” kataku seraya mengembalikan pigura itu.
Karena merasa gerah, aku segera mandi. Kemudian, aku tertidur.
‘Seni adalah ledakan’
‘Seni adalah sesuatu yang abadi’
‘Tidak, seniku lebih baik daripadamu’
“Danna!!!” seruku. Ternyata aku bermimpi. Tentang Sasori.
“Deidara, kau dipanggil ketua” kata Zetsu
“Zetsu! Jangan mengagetkanku” bentakku. Tapi Zetsu sudah masuk ke dalam tanah lagi.
‘Ada apa sih?!’ batinku seraya berlari menemui Pein
“Deidara, ini partner barumu” ucap Pein ketika aku menemuinya.
Kulihat, ada seseorang yang menggunakan topeng bermotif lolipop, berwarna jeruk dan hanya terdapat satu lubang.
“Halo Deidara-senpai. Aku Tobi” sapanya riang
“Begitu cepatnya kalian menemukan pengganti Danna?” seruku kesal
“Ini demi keberhasilan tim” kata Pein
“Lagipula, kenapa kamu mengharapkan Sasori kembali. Dia itu lemah. Sudah sepantasnya dia mati” kata Hidan
PLAKKK
Aku menampar Hidan. Hatiku sakit ketika dia berkata seperti itu. Anggota lain tampak kaget dengan kelakuanku. Kepalaku sudah terasa sangat panas.
“Sekali lagi kamu menjelek-jelekkan Danna, aku akan menghancurkanmu,un” ucapku dingin
“Deidara” panggil Konan
“Terima kasih Konan. Hanya kamu yang mengerti aku” ucapku kemudian berlalu pergi
“Hidan, ikuti aku” ucap Pein kemudian berjalan ke kantornya
“Kamu harus mempertanggungjawabkan perkataanmu” balas Konan
“Hn” gumam Itachi
“Aku akan menyusul Deidara” usul Kisame
“Jangan, biarkan dia sendiri” kata Itachi
~Another place~
Ku berlari menuju tempat itu. Tempat yang memiliki banyak kenangan. Kenangan bersama Danna. Sebuah danau yang terletak di tengah hutan.
Ketika sampai di tempat itu, aku duduk di bawah pohon. Kupandangi bulan. Langit sangat terang karena bulan purnama.
‘Seni adalah ledakan’
‘Bukan, seni adalah sesuatu yang abadi’
‘Sasori no danna’
‘Hah, dia yang akan menjadi partnerku? Tampaknya dia akan mati muda’
‘Danna,un’
Ingatan itu terus berputar di kepalaku. Tampaknya aku belum merelakan Sasori.
“Danna, sekarang kamu bisa berkumpul dengan keluargamu,un. Apakah sekarang kamu senang,un?” kataku sambil menatap bulan. Tanpa terasa, setitik air jatuh dari mataku.
“Lalu, kau meninggalkan aku,un. Apa kau senang sekarang? Danna tidak perlu mendengarkan aku lagi,un. Danna memupuskan perasaanku” kataku lagi
“Baka!Baka!Baka! Baka no danna. Kenapa aku mengharapkan kamu kembali,un. Seharusnya aku senang,un” seruku sambil memetik bunga dandelion
“Kami-sama, izinkan aku bertemu Danna untuk terakhir kalinya” pintaku sambil menatap bulan dan meniup bunga dandelion.
“Kau tau Danna? Kau seperti bunga ini,un. Berlagak kuat, tetapi sangat rapuh,un” ucapku
“Dan kau menyamakan aku dengan bunga itu?” tanya seseorang
‘Suara itu. Suara Danna. Apakah aku bermimpi?’ batinku
“Ini mimpi. Aku mendengar suara Danna”
“Kamu tidak bermimpi, Dei. Ini aku. Lihatlah” sahut seseorang
Aku memalingkan wajahku ke arah kanan. Tampak seorang pemuda dengan rambut merah, bermata hazel dan memiliki wajah baby face. Dia dikelilingi cahaya. Menandakan kalau dia sudah pergi.
“Danna,un” seruku
“Tadaima” ucapnya
“Okaeri, Danna” balasku riang
“Kami-sama mengabulkan doamu. Kami-sama memberikanku waktu untuk menemuimu. Kau merindukanku?” jelasnya seraya mendekat padaku
“Sangat Danna. Aku merindukanmu,un” kataku setelah berhasil memeluknya
“Anak manja. Padahal aku baru meninggalkanmu satu hari. Kamu juga memarahi semua anggota”
“Eh?!” terlihat semburat merah di pipiku.
“Dan kamu akan meninggalku lagi,un” balasku
“Menangislah Dei” ucapnya
Tangisku tumpah ketika dia memelukku. Kerinduan ini terbalas. Sekarang, Danna sedang mengusap kepalaku.
“Danna...hiks...baka. Baka no danna. Danna bilang..hiks.., aku akan mati muda. Ternyata Danna yang..hiks.. pergi duluan” isakku
“Aku memang bodoh, Dei. Kata-kata itu menyerangku” ucapnya sambil tertawa kecil
“Deidara yang aku kenal, tidak secengeng ini. Deidara itu sosok yang kuat,un” katanya sambil mengikuti gaya bicaraku
“Danna....” aku tertegun
“Aku tidak akan meninggalkanmu. Jangan bertindak gegabah sehingga pergi menyusulku. Aku akan tetap di sini” katanya sembari menunjuk ke arah jantungku.
“Danna...” balasku
“Waktuku habis. Semoga kita bertemu lagi” katanya sambil berjalan menjauh dariku
Cahaya itu tampak semakin menyilaukan mata. Sosok itu perlahan-lahan memudar.
“Aishiteru, Danna” ucapku sambil memandangi kepergiannya
“Aishiteru, Dei-un” balasnya seraya menghilang
Hati ini terasa bahagia. Tidak ada lagi kepedihan. Sosok itu telah menguatkanku. Sosok yang aku cintai, dan sosok yang telah pergi selamanya.

~Owari,un~
~Omake~
Deidara tampak berjalan senang menuju markas. Di sepanjang jalan, dia bersenandung kecil. Anggota Akatsuki heran dengan perubahan sikap Deidara.
“Halo Tobi” sapanya kepada Tobi
“Deidara-senpai....” balasnya sambil terharu
“Deidara! Kami mengkhawatirkanmu” kata Konan sambil memeluk Deidara
“Ehem” Pein berdehem
“Leader cemburu” ejek Hidan
“Iya. Leader-sama cemburu” seru Tobi
“Tidak menarik kalau tidak ada uang” kata Kakuzu
“Sudahlah” ucap Itachi
“Nggak. Aku gak akan menduakan Pein” kata Konan sambil tertawa kecil
“So sweet...” seru Kisame dan Zetsu
“Lagipula, Konan hanya milik Pein,un. Hanya Pein yang ada di hati Konan” kata Deidara sambil mengedipkan matanya
Seketika itu, Pein dan Konan berblushing ria. Anggota Akatsuki lainnya tertawa melihat sikap Pein dan Konan.
‘Arigato Sasori’ batin semuanya minus Deidara
‘Arigato Danna. Aishiteru,un’ batin Deidara

 

KokorOmou Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos