Selasa, 01 Juli 2014

Danna, un

Diposting oleh Unknown di 12.38

                  DANNA,UN





Disclaimer           :Masashi Kishimoto
Rate                     :T
Genre                   :Hurt
Pairing                 :SasoDei
Warning              :Bahasa terlalu kaku, gak nyambung,dll
Summary            :
Kau tinggalkan aku dengan sejuta kenangan. Saling bertengkar akibat arti seni. Hal-hal seperti itu yang kurindukan. Tapi semuanya berbeda ketika kau pergi. Hatiku terasa kosong. Datang dan temuilah aku~
~Danna,un~
~Deidara POV~
“Dei...” panggil Konan
“Tinggalkan aku sendiri!” jawab Deidara
“Ayo Konan” ajak Pein
Kulirik dari ekor mataku, anggota lainnya telah beranjak pergi. Yang tesisa adalah Konan dan Pein. Konan tampaknya enggan meninggalkanku.Akhirnya, Konan menerima ajakan Pein. Anggota lain sedang menjalankan misi yang diberikan Pein.
“Danna,un” bisikku lirih
~Flashback
“Ada apa sih Pein?” tanya Hidan
“Kalau tidak berhubungan dengan uang, aku pergi”
“Aku tidak sabar dengan misi lain” kata Zetsu
“Aku ingin menangkap jinchurikki”  kata Kisame
“Padahal baru mau buat bom,un” gerutuku
“Ini penting” ucap Itachi
“Dengarkan. Sasori telah mati di tangan Nenek Chiyo dan Sakura” jelas Pein
Anggota lainnya sangat terkejut. Terlebih lagi aku. Apakah aku salah dengar?
“Hah. Aku pasti salah dengar,un” ucapku
“Tidak” tolak Pein
Hati ini serasa ditusuk beribu kunai. Partnerku telah pergi.
“Tidak mungkin! Danna tidak mati” teriakku histeris
“Dei, bersabarlah” hibur Konan
“Cih, anak itu....” Kata-kata Hidan terhenti karena Pein mendeathglarenya
“Sekarang, pergi laksanakan misi” ucap Pein
~Flashback end
Aku beranjak ke kamarku dan Sasori. Di kamar, aku hanya berbaring di tempat tidur dan menangis. Ketika kuraba di sebelahku, tak ada lagi boneka kayu. Yang ada hanya kekosongan menghampiriku.
Kulihat sisi lain kamarku. Banyak terdapat boneka milik Sasori. Bonekanya begitu cantik tapi mematikan. Pekerjaannya sangat rapi. Hanya satu benda di meja Sasori yang menarik perhatianku. Segera kuambil benda itu. Sebuah pigura tua dengan foto lusuh di dalamnya. Tampak pasangan suami istri sedang berfoto dengan menggendong seorang bayi berambut merah.
“Sekarang, kau senang Danna. Danna bisa berkumpul lagi dengan keluarga,un. Seperti dulu,un” kataku seraya mengembalikan pigura itu.
Karena merasa gerah, aku segera mandi. Kemudian, aku tertidur.
‘Seni adalah ledakan’
‘Seni adalah sesuatu yang abadi’
‘Tidak, seniku lebih baik daripadamu’
“Danna!!!” seruku. Ternyata aku bermimpi. Tentang Sasori.
“Deidara, kau dipanggil ketua” kata Zetsu
“Zetsu! Jangan mengagetkanku” bentakku. Tapi Zetsu sudah masuk ke dalam tanah lagi.
‘Ada apa sih?!’ batinku seraya berlari menemui Pein
“Deidara, ini partner barumu” ucap Pein ketika aku menemuinya.
Kulihat, ada seseorang yang menggunakan topeng bermotif lolipop, berwarna jeruk dan hanya terdapat satu lubang.
“Halo Deidara-senpai. Aku Tobi” sapanya riang
“Begitu cepatnya kalian menemukan pengganti Danna?” seruku kesal
“Ini demi keberhasilan tim” kata Pein
“Lagipula, kenapa kamu mengharapkan Sasori kembali. Dia itu lemah. Sudah sepantasnya dia mati” kata Hidan
PLAKKK
Aku menampar Hidan. Hatiku sakit ketika dia berkata seperti itu. Anggota lain tampak kaget dengan kelakuanku. Kepalaku sudah terasa sangat panas.
“Sekali lagi kamu menjelek-jelekkan Danna, aku akan menghancurkanmu,un” ucapku dingin
“Deidara” panggil Konan
“Terima kasih Konan. Hanya kamu yang mengerti aku” ucapku kemudian berlalu pergi
“Hidan, ikuti aku” ucap Pein kemudian berjalan ke kantornya
“Kamu harus mempertanggungjawabkan perkataanmu” balas Konan
“Hn” gumam Itachi
“Aku akan menyusul Deidara” usul Kisame
“Jangan, biarkan dia sendiri” kata Itachi
~Another place~
Ku berlari menuju tempat itu. Tempat yang memiliki banyak kenangan. Kenangan bersama Danna. Sebuah danau yang terletak di tengah hutan.
Ketika sampai di tempat itu, aku duduk di bawah pohon. Kupandangi bulan. Langit sangat terang karena bulan purnama.
‘Seni adalah ledakan’
‘Bukan, seni adalah sesuatu yang abadi’
‘Sasori no danna’
‘Hah, dia yang akan menjadi partnerku? Tampaknya dia akan mati muda’
‘Danna,un’
Ingatan itu terus berputar di kepalaku. Tampaknya aku belum merelakan Sasori.
“Danna, sekarang kamu bisa berkumpul dengan keluargamu,un. Apakah sekarang kamu senang,un?” kataku sambil menatap bulan. Tanpa terasa, setitik air jatuh dari mataku.
“Lalu, kau meninggalkan aku,un. Apa kau senang sekarang? Danna tidak perlu mendengarkan aku lagi,un. Danna memupuskan perasaanku” kataku lagi
“Baka!Baka!Baka! Baka no danna. Kenapa aku mengharapkan kamu kembali,un. Seharusnya aku senang,un” seruku sambil memetik bunga dandelion
“Kami-sama, izinkan aku bertemu Danna untuk terakhir kalinya” pintaku sambil menatap bulan dan meniup bunga dandelion.
“Kau tau Danna? Kau seperti bunga ini,un. Berlagak kuat, tetapi sangat rapuh,un” ucapku
“Dan kau menyamakan aku dengan bunga itu?” tanya seseorang
‘Suara itu. Suara Danna. Apakah aku bermimpi?’ batinku
“Ini mimpi. Aku mendengar suara Danna”
“Kamu tidak bermimpi, Dei. Ini aku. Lihatlah” sahut seseorang
Aku memalingkan wajahku ke arah kanan. Tampak seorang pemuda dengan rambut merah, bermata hazel dan memiliki wajah baby face. Dia dikelilingi cahaya. Menandakan kalau dia sudah pergi.
“Danna,un” seruku
“Tadaima” ucapnya
“Okaeri, Danna” balasku riang
“Kami-sama mengabulkan doamu. Kami-sama memberikanku waktu untuk menemuimu. Kau merindukanku?” jelasnya seraya mendekat padaku
“Sangat Danna. Aku merindukanmu,un” kataku setelah berhasil memeluknya
“Anak manja. Padahal aku baru meninggalkanmu satu hari. Kamu juga memarahi semua anggota”
“Eh?!” terlihat semburat merah di pipiku.
“Dan kamu akan meninggalku lagi,un” balasku
“Menangislah Dei” ucapnya
Tangisku tumpah ketika dia memelukku. Kerinduan ini terbalas. Sekarang, Danna sedang mengusap kepalaku.
“Danna...hiks...baka. Baka no danna. Danna bilang..hiks.., aku akan mati muda. Ternyata Danna yang..hiks.. pergi duluan” isakku
“Aku memang bodoh, Dei. Kata-kata itu menyerangku” ucapnya sambil tertawa kecil
“Deidara yang aku kenal, tidak secengeng ini. Deidara itu sosok yang kuat,un” katanya sambil mengikuti gaya bicaraku
“Danna....” aku tertegun
“Aku tidak akan meninggalkanmu. Jangan bertindak gegabah sehingga pergi menyusulku. Aku akan tetap di sini” katanya sembari menunjuk ke arah jantungku.
“Danna...” balasku
“Waktuku habis. Semoga kita bertemu lagi” katanya sambil berjalan menjauh dariku
Cahaya itu tampak semakin menyilaukan mata. Sosok itu perlahan-lahan memudar.
“Aishiteru, Danna” ucapku sambil memandangi kepergiannya
“Aishiteru, Dei-un” balasnya seraya menghilang
Hati ini terasa bahagia. Tidak ada lagi kepedihan. Sosok itu telah menguatkanku. Sosok yang aku cintai, dan sosok yang telah pergi selamanya.

~Owari,un~
~Omake~
Deidara tampak berjalan senang menuju markas. Di sepanjang jalan, dia bersenandung kecil. Anggota Akatsuki heran dengan perubahan sikap Deidara.
“Halo Tobi” sapanya kepada Tobi
“Deidara-senpai....” balasnya sambil terharu
“Deidara! Kami mengkhawatirkanmu” kata Konan sambil memeluk Deidara
“Ehem” Pein berdehem
“Leader cemburu” ejek Hidan
“Iya. Leader-sama cemburu” seru Tobi
“Tidak menarik kalau tidak ada uang” kata Kakuzu
“Sudahlah” ucap Itachi
“Nggak. Aku gak akan menduakan Pein” kata Konan sambil tertawa kecil
“So sweet...” seru Kisame dan Zetsu
“Lagipula, Konan hanya milik Pein,un. Hanya Pein yang ada di hati Konan” kata Deidara sambil mengedipkan matanya
Seketika itu, Pein dan Konan berblushing ria. Anggota Akatsuki lainnya tertawa melihat sikap Pein dan Konan.
‘Arigato Sasori’ batin semuanya minus Deidara
‘Arigato Danna. Aishiteru,un’ batin Deidara

0 komentar:

Posting Komentar

 

KokorOmou Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos